Prancis vs Inggris, Duel Gengsi Dua Raksasa Terluka di Perebutan Juara Ketiga
- Prancis dan Inggris akan bertanding memperebutkan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami setelah keduanya tersingkir di semifinal.
- Laga ini menjadi babak baru rivalitas klasik kedua negara yang memiliki sejarah panjang sejak Piala Dunia 1966 silam.
- Meskipun laga perebutan tempat ketiga sering kali dianggap kurang bergengsi, harga diri dan gengsi historis dipastikan akan membuat tensi pertandingan tetap tinggi.
Pertandingan dua tim raksasa yang tengah terluka akan tersaji saat Prancis berhadapan dengan Inggris pada laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami, Sabtu malam waktu setempat atau Minggu pukul 04.00 WIB. Kedua tim terpaksa mengubur mimpi indah mereka untuk mengangkat trofi setelah gugur di fase semifinal. Kini, dengan kepala yang masih tertunduk, mereka harus mempersiapkan diri untuk laga pelipur lara yang mungkin tidak pernah mereka harapkan sebelumnya.
Secara paradoks, meski rivalitas kedua negara di daratan Eropa sangat kental, mereka belum pernah bertemu sejauh ini di fase gugur turnamen besar. Pertemuan ini kemungkinan besar akan diawali dengan rasa lesu dari kedua kubu. Namun, ketika peluit pertama dibunyikan di lapangan hijau, insting kompetitif yang telah mendarah daging antara Les Bleus dan The Three Lions dipastikan akan segera kembali membakar semangat juang para pemain.
Sejarah pertemuan kedua negara di putaran final turnamen mayor tercatat kembali ke Piala Dunia 1966, satu-satunya trofi yang pernah diraih Inggris. Inggris yang saat itu bertindak sebagai tuan rumah sukses mengalahkan Prancis dengan skor 2-0 di Stadion Wembley. Kekalahan Prancis kala itu diwarnai dengan cederanya Robert Herbin serta permainan keras menjurus kasar dari gelandang legendaris Inggris, Nobby Stiles, terhadap Jacky Simon.
Cerita unik mengenai kebrutalan Nobby Stiles di masa lalu masih diingat betul oleh mantan kiper Prancis, Marcel Aubour. "Di koridor Wembley, saya sempat berbisik kepada Bernard Bosquier, lihat orang itu, dia mengunyah permen karet sambil menatapmu, tapi dia tidak punya gigi," kenang Aubour kala itu mengenai sosok Stiles yang kerap melepas gigi palsunya sebelum bertanding. Memori masa lalu tersebut menegaskan bahwa laga antara kedua tim ini tidak pernah berjalan biasa saja.
Selain kisah di tahun 1966, publik sepak bola tentu tidak akan melupakan keajaiban di Stadion Da Luz, Lisbon, pada Euro 2004 silam. Saat itu, Prancis yang tertinggal 0-1 berhasil membalikkan kedudukan berkat sihir Zinedine Zidane lewat eksekusi tendangan bebas dan penalti di masa injury time. Rivalitas ini juga sempat diwarnai selebrasi ikonik Samir Nasri yang menaruh jari di mulutnya setelah mencetak gol penyama kedudukan pada Euro 2012 lalu. Kini, Miami akan menjadi saksi babak baru dari sejarah panjang perseteruan dua tetangga ini.