Sejarah kelam kembali terulang bagi megabintang sepak bola, Neymar. Seperti halnya kegagalan di Piala Dunia 2018 saat ditundangkan Belgia dan edisi 2022 ketika disingkirkan Kroasia, sang penyerang kembali tertunduk lesu. Berdasarkan pantauan redaksi di MetLife Stadium, Amerika Serikat, Neymar tampak berlutut di atas lapangan dengan air mata yang mengalir deras setelah Brasil dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Kekalahan tipis 1-2 dari Norwegia di babak 16 besar tersebut tidak hanya mengakhiri mimpi Brasil, tetapi juga menjadi panggung terakhir bagi sang penyerang. Melalui sebuah wawancara emosional dengan TV Globo, mantan penggawa PSG dan FC Barcelone itu menegaskan akhir perjalanannya bersama Selecao. "Saya sudah mencoba, saya sudah berusaha keras. Namun, sekarang semuanya telah berakhir," ujar Neymar.
Menurut catatan sejarah, pengumuman ini menandai berakhirnya era salah satu monumen terbesar sepak bola Brasil. Pemain yang saat ini membela Santos tersebut merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Selecao dengan koleksi 80 gol dari 130 penampilan, melampaui torehan para legenda besar seperti Pele yang mengoleksi 77 gol dan Ronaldo dengan 62 gol.
Dari pengamatan tim redaksi, akhir perjalanan internasional Neymar terasa sangat ironis karena ditutup di stadion yang sama tempat ia memulai debutnya. Pada Mei 2010 silam di MetLife Stadium, Neymar yang baru berusia 18 tahun mencetak gol pertamanya bagi Brasil dalam laga persahabatan melawan Amerika Serikat, menjadikannya sebagai tumpuan masa depan sepak bola Brasil kala itu.
Perjalanan Neymar menuju Piala Dunia 2026 sendiri sempat diwarnai drama panjang mengenai kebugaran fisiknya. Keputusan pelatih Carlo Ancelotti untuk tetap memanggilnya memicu perdebatan sengit di kalangan publik akibat masalah cedera kambuhan yang kerap menimpanya, termasuk ketika ia harus absen saat Brasil menjuarai Copa America pada tahun 2019 dan 2021.
Harapan besar publik Brasil pada akhirnya berujung kekecewaan yang mendalam akibat performa yang tidak maksimal akibat terkendala kondisi fisik. Mengalami masalah pada betisnya, Neymar terpaksa absen pada dua laga perdana babak penyisihan grup, dan hanya sempat mencatatkan penampilan singkat saat Brasil meraih kemenangan besar atas Skotlandia.
Berdasarkan jalannya pertandingan melawan Norwegia, Neymar yang masuk dari bangku cadangan gagal memberikan dampak instan di lini serang dan tampil kurang rapi. Meski sempat memperkecil ketertinggalan lewat eksekusi penalti pada menit 90+10, gol tersebut tidak mampu menyelamatkan Brasil dari kekalahan.
Bukannya segera membawa bola kembali ke tengah lapangan untuk memburu gol penyama kedudukan, Neymar justru terlibat friksi. Ia kedapatan memprovokasi penjaga gawang Norwegia sebelum akhirnya memberikan dorongan fisik kepada gelandang Martin Odegaard di sisa waktu pertandingan.
Dengan keputusan ini, pemain paling berbakat di generasina tersebut resmi meninggalkan panggung internasional tanpa pernah mempersembahkan trofi mayor bagi negaranya, selain medali emas Olimpiade Rio 2016. Sebuah akhir cerita yang dramatis dan jauh dari akhir bahagia yang selalu diimpikannya.