Aksi gemilang Jude Bellingham bersama Timnas Inggris di Piala Dunia berhasil menyihir para pencinta sepak bola, termasuk mereka yang sempat meragukannya. Berdasarkan pantauan redaksi, setelah Inggris sukses menumbangkan Norwegia dengan skor 2-1 di babak perempat final, lagu klasik The Beatles berjudul "Hey Jude" langsung menggema di Hard Rock Stadium, Miami. Fans Inggris, termasuk keluarga David Beckham, turut bernyanyi merayakan performa sang gelandang yang menjadi Man of the Match berkat torehan dua golnya.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Performa apik ini membuat mantan gelandang timnas Belanda, Rafael van der Vaart, akhirnya menarik kata-katanya. "Saya sangat menikmati permainannya," kata pemilik 109 caps bersama Oranje tersebut kepada NOS Voetbal. "Dulu saya bukan penggemarnya karena dia bukan tipe nomor sepuluh favorit saya, tetapi melihat cara bermainnya sekarang membuat saya bahagia. Dia telah membuktikan bahwa saya salah, meskipun opini saya sebenarnya tidak begitu penting," lanjut Van der Vaart santai.
Menurut catatan tim redaksi, tiga tahun lalu Van der Vaart sempat memicu perdebatan saat membandingkan Bellingham dengan Ryan Gravenberch. Saat itu, Bellingham masih berseragam Borussia Dortmund dan Gravenberch membela Bayern München. Van der Vaart secara terang-terangan menyebut Gravenberch memiliki potensi yang lebih besar. Namun, situasi berbalik ketika Bellingham bersinar di Real Madrid, sementara Gravenberch harus berjuang keras di Liverpool sebelum akhirnya bangkit di bawah asuhan Arne Slot musim ini.
Sorotan positif yang diterima Bellingham saat ini berbanding terbalik dengan opini publik satu tahun lalu. Media Inggris seperti Daily Mail bahkan sempat meluncurkan kampanye keras dengan tajuk "Laat Jude thuis" atau meminta pelatih Thomas Tuchel untuk tidak membawanya ke Piala Dunia. Bellingham kala itu dinilai egois dan berpotensi memecah belah keharmonisan tim, terutama setelah sempat menunjukkan sikap frustrasi di lapangan saat laga melawan Senegal dan Albania.
Namun, Thomas Tuchel memilih untuk tetap memercayai pemain berusia 23 tahun tersebut. Keputusan itu terbukti sangat tepat karena dalam pengamatan tim redaksi, Tuchel berhasil meracik taktik ideal yang menempatkan Bellingham sebagai gelandang serang di belakang Harry Kane. Bellingham kini mengemas enam gol di Piala Dunia, jumlah yang sama dengan Kane, dan mendapat pujian langsung dari Tuchel yang menyebutnya sebagai pemain kelas dunia.
Meski demikian, hubungan Bellingham dan Tuchel tetap diwarnai dinamika yang unik. Usai laga melawan Norwegia, Tuchel sempat mengkritik performa tim yang dinilainya kurang memuaskan dan berbau keberuntungan. Menanggapi hal tersebut, Bellingham dengan percaya diri membalas bahwa pelatih mungkin tidak merasakan langsung atmosfer sulit bertanding melawan pemain-pemain top Norwegia seperti Erling Haaland dan Martin Ødegaard. Sikap blak-blakan Bellingham ini justru mendapat pujian lagi dari Van der Vaart yang menilai komentar jujur seperti itu jauh lebih menarik daripada wawancara standar yang membosankan.