Devins Bookie Devins Bookie
/home / laliga / Bungkam Kritik, Jude Bellingham Jadi...
LALIGA

Bungkam Kritik, Jude Bellingham Jadi Superster Inggris di Piala Dunia

Selebrasi Jude Bellingham setelah mencetak gol penentu kemenangan timnas Inggris di Piala Dunia

Selebrasi Jude Bellingham setelah mencetak gol penentu kemenangan timnas Inggris di Piala Dunia

Gemuruh lagu klasik The Beatles berjudul "Hey Jude" menggema di seluruh sudut Hard Rock Stadium, Miami, sesaat setelah Jude Bellingham berdiri di hadapan tribun pendukung Inggris. Berdasarkan pantauan redaksi, momen emosional tersebut terjadi tepat setelah tim nasional Inggris sukses menundangkan Norwegia dengan skor 2-1 pada laga perempat final Piala Dunia. Bellingham kembali dinobatkan sebagai Man of the Match setelah mencetak dua gol kemenangan, mengulangi kesuksesan serupa saat menghadapi Meksiko dengan skor 3-2 di fase sebelumnya.

Performa impresif sang gelandang muda sepanjang turnamen ini tidak hanya memikat hati para suporter, melainkan juga sukses membungkam para pengritik terbesarnya. Menurut mantan bek internasional Inggris, Gary Neville, penampilan pemain Real Madrid tersebut benar-benar di luar dugaan. "Dia sangat sensasional. Dia adalah superster sejati bagi Inggris saat ini," ujar Neville dalam wawancaranya bersama Sky Sports.

Tidak hanya pengamat di Inggris, mantan gelandang timnas Belanda, Rafael van der Vaart, akhirnya juga ikut melayangkan pujian. Van der Vaart mengaku bahwa dirinya sempat meragukan kapasitas Bellingham sebagai sosok playmaker ideal. "Saya sangat menikmati permainannya sekarang. Saya dulu bukan penggemar beratnya karena dia bukan tipe pemain nomor sepuluh favorit saya. Namun, dia telah membuktikan bahwa penilaian saya salah," ungkap pemilik 109 caps bersama Oranje tersebut.

Berdasarkan catatan tim redaksi, hubungan opini antara Van der Vaart dan Bellingham memang sempat memanas tiga tahun lalu. Saat Bellingham masih memperkuat Borussia Dortmund dan Ryan Gravenberch membela Bayern Munchen, Van der Vaart secara terbuka menyebut Gravenberch memiliki potensi yang jauh lebih besar. Prediksi tersebut sempat meleset saat Bellingham langsung bersinar di Real Madrid, sementara Gravenberch kesulitan menembus skuad utama Liverpool, sebelum akhirnya bangkit di bawah asuhan Arne Slot.

Sanjungan yang diterima Bellingham saat ini berbanding terbalik dengan situasi pelik yang dialaminya setahun lalu. Media Inggris, khususnya Daily Mail, sempat meluncurkan kampanye tajam bertajuk "Tinggalkan Jude di Rumah". Dari pengamatan redaksi, media tersebut menilai Bellingham memiliki watak yang egois dan dapat merusak keharmonisan taktik kolektif yang diusung oleh manajer Thomas Tuchel.

Ketegangan antara Tuchel dan Bellingham memang sempat memuncak dalam beberapa kesempatan. Menurut laporan internal tim, Tuchel sempat mengecam reaksi emosional Bellingham saat golnya dianulir dalam laga melawan Senegal. Hubungan keduanya kian menegang ketika Bellingham tertangkap kamera melakukan protes keras dengan mengangkat tangan ke udara saat digantikan dalam laga kualifikasi melawan Albania.

Namun, keputusan Tuchel untuk tetap membawa gelandang berusia 23 tahun tersebut ke putaran final Piala Dunia terbukti menjadi langkah yang sangat jitu. Tuchel berhasil meracik strategi yang menempatkan Bellingham sebagai gelandang serang dinamis tepat di belakang Harry Kane. Kerjasama apik ini membuat Bellingham menjelma menjadi top skor tim dengan torehan enam gol, menyamai catatan gol milik Kane.

Menariknya, perbedaan pandangan masih sempat terjadi pasca-laga kontra Norwegia. Tuchel menyatakan ketidakpuasannya atas performa kolektif tim yang dianggapnya hanya dinaungi keberuntungan. Menanggapi hal tersebut, Bellingham secara blak-blakan menyindir sang pelatih. "Mungkin dia tidak memahami bagaimana rasanya bermain dalam tekanan tinggi melawan pemain-pemain top seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard," pungkas Bellingham, sebuah komentar berani yang justru dinilai Van der Vaart sebagai karakter pemenang yang jujur.

// TOPICS
Jurnalis Olahraga Senior - Sepak Bola & Analisis Taktik

Ajiman Prasetyo adalah jurnalis olahraga ternama dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia sepak bola. Mantan koresponden di Jakarta, London, dan Madrid, ia telah meliput berbagai ajang olahraga terbesar: Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions, dan liga-liga nasional. Analisis taktik dan laporan lapangannya dihargai karena kedalaman dan ketepatannya. Bergairah tentang sepak bola Eropa dan Amerika Selatan, ia menghadirkan pandangan unik dan mendalam tentang berita olahraga.