Keputusan FIFA membatalkan hukuman skorsing Folarin Balogun menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Belgia dan Amerika Serikat memicu gelombang kemarahan dari media internasional. Berdasarkan pantauan redaksi, pembatalan sanksi yang terjadi setelah adanya dugaan intervensi dari Gedung Putih ini dinilai merusak sportivitas. Media Italia, Gazzetta dello Sport, menyebut langkah mengejutkan ini berisiko menciptakan kekacauan dan polemik besar di turnamen, sementara La Nacion dari Argentina tanpa ragu melabeli peristiwa ini sebagai "skandal besar pertama di Piala Dunia 2026".
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Kritik tajam juga datang dari Inggris, di mana BBC menyoroti keanehan regulasi yang mendadak berubah demi menguntungkan negara tuan rumah. Menurut analisis BBC, kedekatan hubungan antara Gedung Putih dan FIFA menimbulkan kesan bahwa federasi sepak bola dunia tersebut menyusun aturan secara improvisasi demi kepentingan sepihak. Nada sarkastis juga dilontarkan legenda Manchester United, Roy Keane dan Gary Neville, saat memandu acara di ITV Sport. "Ini adalah bentuk kronisme," cetus Keane, yang langsung ditimpali oleh Neville yang menyebutnya sebagai tindakan yang sangat memalukan.
Berdasarkan laporan dari Radio Télévision Suisse (RTS), kasus ini secara terang-terangan disebut sebagai bentuk "intervensi politik" yang nyata. RTS bahkan menyamakan situasi memprihatinkan ini dengan sejarah kelam masa lalu, seperti tekanan politik yang pernah dilancarkan oleh diktator Italia, Benito Mussolini, pada Piala Dunia edisi 1934 dan 1938.
Di sisi lain, dari pengamatan tim redaksi, media Amerika Serikat yang pro-Trump menjadi satu-satunya pihak yang membela keputusan tersebut. New York Post secara provokatif memasang foto Balogun berdampingan dengan Donald Trump di halaman utama dengan judul "Kartu Trump". Mereka mengklaim bahwa keadilan telah ditegakkan setelah federasi sepak bola Amerika Serikat mengancam akan menuntut FIFA terkait kesalahan penerapan sistem video assistant referee (VAR).
Sebaliknya, media Belgia mengecam habis interpretasi sepihak tersebut. Surat kabar Le Soir menulis kritik pedas yang menyatakan bahwa FIFA, yang selama ini mengagungkan netralitas, kini telah menjual integritasnya demi mengakomodasi penyerang terbaik tim tuan rumah. Sementara itu, Het Nieuwsblad menanggapi sinis keputusan tersebut dengan menyebutnya sebagai "sebuah lelucon, tapi lelucon yang sangat buruk".
Kekecewaan mendalam juga disuarakan oleh komentator olahraga Belgia, Vicente Langendries, melalui saluran RTBF. Menurutnya, kolusi yang terjadi antara Presiden FIFA dan pemimpin Gedung Putih telah mencapai puncak absurditas yang memalukan bagi dunia olahraga. Di saat yang sama, harian DH Les Sports + merilis editorial tajam yang menggambarkan pertandingan ini sebagai duel tidak seimbang antara kekuatan raksasa Amerika Serikat dan FIFA melawan Belgia. Media tersebut menyatakan bahwa tindakan memanipulasi aturan ini justru akan membuat tim nasional Amerika Serikat dicap sebagai pencundang yang curang di turnamen mereka sendiri.