Babak gugur Piala Dunia 2026 yang seharusnya menyajikan ketegangan dan hiburan murni kini justru dinodai oleh keputusan kontroversial badan tertinggi sepak bola dunia, FIFA. Jagat sepak bola gempar setelah penyerang utama tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, secara misterius dibebaskan dari hukuman larangan bertanding. Keputusan ini dinilai banyak pihak sebagai bukti nyata adanya intervensi politik berat yang menodai integritas turnamen.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, Balogun sebelumnya menerima kartu merah langsung dalam laga babak 32 besar melawan Bosnia & Herzegovina akibat pelanggaran berbahaya terhadap Tarik Muharemovic. Sesuai regulasi baku, sang penyerang seharusnya absen dalam laga krusial di Seattle. Namun, hanya dalam waktu 24 jam sebelum sepak mula, FIFA mengumumkan bahwa top skor Amerika Serikat tersebut terbebas dari sanksi satu pertandingan.
Keputusan ini langsung memantik reaksi keras dari mantan bek legendaris Manchester United, Gary Neville. Menurut Gary Neville, keputusan tersebut sangat janggal karena tidak ada mekanisme peninjauan ulang resmi yang biasanya berjalan untuk membatalkan kartu merah. "Ini sangat memuakkan. Jika tidak ada proses resmi dan FIFA tiba-tiba memutuskan membiarkan seorang pemain tampil, aturan menjadi tidak adil bagi semua orang. Saya akan sangat mengamuk jika berada di kubu Belgia," cetusnya dalam wawancara di ITV.
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) secara resmi menyatakan bahwa mereka sangat terkejut dan mengecam keputusan tersebut. Manajemen Belgia menilai FIFA telah melanggar aturannya sendiri, khususnya Pasal 66.4 dari Kode Disiplin FIFA serta Pasal 10.5 Regulasi Kompetisi Piala Dunia 2026 yang menyatakan bahwa kartu merah langsung menghasilkan sanksi otomatis pada laga berikutnya tanpa pengecualian.
Dari pengamatan tim redaksi, aroma politisasi dalam skandal ini kian pekat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melalui media sosial berterima kasih kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, karena telah membalikkan apa yang disebutnya sebagai "ketidakadilan besar". Hubungan erat antara Infantino dan Trump, termasuk keberadaan kantor FIFA di Trump Tower New York, dinilai para pengamat telah merusak asas netralitas yang selama ini didengungkan oleh organisasi sepak bola dunia tersebut.
Mantan Presiden FIFA yang penuh skandal, Sepp Blatter, bahkan turut angkat bicara dan mengkritik tajam suksesornya melalui media sosial. Menurut Sepp Blatter, kartu merah tidak boleh dibatalkan melalui panggilan telepon politik, melainkan harus lewat bukti dan badan independen. Ia mempertanyakan arah FIFA yang kini terkesan menjadi taman bermain bagi kekuasaan politik.
Pelatih tim nasional Norwegia, Stale Solbakken, juga menambahkan bahwa kekacauan ini tidak hanya merusak sepak bola secara umum, tetapi juga mencoreng reputasi tim nasional Amerika Serikat itu sendiri. Sentimen negatif kini mengalir deras, di mana mayoritas pencinta sepak bola netral kini berbalik mendukung Belgia untuk menyingkirkan sang tuan rumah akibat skandal yang memalukan ini.