Gelaran Piala Dunia 2026 kembali diguncang isu miring terkait kualitas pengadil lapangan. Berdasarkan laporan media Prancis L'Equipe, laga babak 16 besar antara Prancis dan Paraguay yang berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan armada Les Bleus menyisakan rapor merah bagi korps baju hitam. Wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, menjadi sorotan tajam akibat kepemimpinannya yang dinilai sangat buruk.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam evaluasi performa yang rutin dirilis, L'Equipe memberikan nilai yang sangat mengenaskan bagi Tantashev, yakni 1 dari 10. Angka ini menjadi catatan terburuk ketiga dalam sejarah penilaian media tersebut setelah Stephanie Frappart dan Mathieu Vernice pada tahun 2024. Dari pantauan redaksi, ketegangan di lapangan diperparah oleh lambatnya respons dari Video Assistant Referee (VAR) yang gagal membantu wasit utama dalam mengambil keputusan krusial, selain insiden penalti.
Bukan kali ini saja perwasitan di turnamen akbar ini menuai kecaman. Sebelumnya, keputusan FIFA untuk tidak memberikan sanksi larangan bertanding yang tegas kepada penggawa Amerika Serikat, Folarin Balogun, juga memicu polemik. Balogun hanya mendapat kartu merah tanpa hukuman tambahan setelah melakukan tindakan berbahaya meski tidak sengaja saat bersua Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar.
Padahal, sebelum turnamen dimulai, Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina telah memperkenalkan serangkaian aturan baru guna meningkatkan intensitas permainan. Aturan tersebut meliputi sanksi tegas bagi pemain yang sengaja mengulur waktu saat pergantian pemain dan lemparan ke dalam, hingga perluasan wewenang VAR untuk kartu kuning kedua. Ada pula larangan ketat bagi pemain untuk menutupi mulut saat melakukan perdebatan di lapangan demi menjaga transparansi.
Namun, penerapan aturan baru ini dinilai belum harmonis dan tebang pilih. Pengamatan tim redaksi menunjukkan adanya standar ganda saat gelandang Paraguay Miguel Almiron diusir keluar lapangan saat melawan Turki karena menutupi mulutnya. Sebaliknya, bintang Inggris Jude Bellingham yang melakukan aksi serupa dalam laga kontra Ghana justru lolos dari hukuman pengadil lapangan.
Menurut mantan wasit internasional, Said Ennjimi, sistem penunjukan wasit oleh FIFA saat ini telah mencapai batasnya. FIFA dinilai terlalu memaksakan misi ekspansi dengan menyertakan wasit dari konfederasi non-Eropa dan non-Amerika Selatan yang belum matang di laga krusial. "Sejak awal laga, saya melihat dari sikap dan tatapan matanya bahwa dia (Tantashev) sangat tegang dan linglung. Dia benar-benar tertekan oleh tensi pertandingan," ujar Ennjimi.
Meski tidak ada indikasi kecurangan atau pengaturan skor, karier internasional Tantashev diprediksi bakal meredup setelah laga ini. Komite Wasit FIFA sendiri enggan berkomentar banyak mengenai kegagalan ini dan memilih merujuk pada evaluasi positif fase grup yang dirilis akhir Juni lalu. Kendati demikian, publik telanjur melihat bahwa implementasi aturan di sisa turnamen ini masih menyisakan ruang perdebatan yang liar bak wilayah tak bertuan.