Devins Bookie Devins Bookie
/home / berita / Kisah di Balik Kontrak Monster...
BERITA

Kisah di Balik Kontrak Monster Mauricio Pochettino di Timnas AS

Mauricio Pochettino saat menandatangani kontrak sebagai pelatih baru Timnas Amerika Serikat

Mauricio Pochettino saat menandatangani kontrak sebagai pelatih baru Timnas Amerika Serikat

Siapa pun yang ingin memahami alasan seorang pria asal Argentina kini memimpin harapan Amerika Serikat di Piala Dunia harus melihat ke arah Wall Street terlebih dahulu. Berdasarkan penelusuran, mimpi besar sepak bola Amerika Serikat ini mustahil terwujud tanpa campur tangan dari dua sosok penyumbang dana raksasa. Di balik penunjukan sang juru selamat baru ini, ada cerita kesepakatan bernilai fantastis yang kini dituntut untuk segera membuahkan hasil nyata di lapangan hijau.

Cerita ini dimulai sekitar dua tahun lalu di teras Locanda Verde, sebuah restoran Italia di kawasan Tribeca, New York. Dua orang pria terlihat duduk bersama di meja pinggir jalan, yakni Scott Goodwin yang merupakan pendiri dana investasi Diameter Capital sekaligus seorang miliarder, serta JT Batson yang menjabat sebagai CEO US Soccer. Pengamatan tim redaksi melihat atmosfer pertemuan ini layaknya latar film "The Wolf of Wall Street", sebuah ruang negosiasi kelas atas Manhattan di mana dua pria berjas rapi berbicara serius mengenai uang.

Sesaat setelah kopi dihidangkan, Scott Goodwin langsung menuju pada inti persoalan yang mengganjal pikirannya. Kegagalan dini Amerika Serikat di ajang Copa America terus mengusik ketenangannya, sehingga ia bertanya langsung kepada JT Batson mengenai langkah konkret untuk memajukan sepak bola di negara tersebut. Sebagai investor lama yang telah mendanai pengembangan usia muda dan infrastruktur, miliarder ini merasa frustrasi dan ingin berbuat lebih banyak setelah meluapkan kekesalannya terhadap pelatih Gregg Berhalter di sebuah grup obrolan bersama rekan-rekannya.

"Mengapa kita tidak mendatangkan pelatih top dunia saja?" ujar Scott Goodwin saat melemparkan ide di grup obrolan tersebut, seperti dilansir dari wawancaranya bersama The Telegraph. Tanggapan yang ia terima awalnya penuh skeptisisme karena federasi dianggap tidak akan mampu membayar pelatih kelas dunia. Namun, ia membalas dengan tegas, "Bagaimana jika saya sendiri yang membayar selisih kekurangannya?" Meskipun rekan-rekannya mengira itu hanya lelucon, Scott Goodwin terbukti sangat serius dengan ucapannya.

Kurang dari dua minggu kemudian, pelatih kepala Amerika Serikat resmi didepak dari kursinya dan nama Jurgen Klopp sempat mencuat di berbagai media sebagai calon pengganti. Sayangnya, mantan manajer Liverpool tersebut memilih untuk melanjutkan masa istirahatnya dan dinilai terlalu mahal bagi anggaran federasi. Dari pantauan redaksi, Scott Goodwin yang hidup di dunia tanpa batas finansial tersebut kemudian mengontak jaringannya hingga akhirnya duduk bersama CEO US Soccer dan bertanya, "Jika uang bukan masalah, siapa yang akan Anda tunjuk?"

Nama Mauricio Pochettino pun pertama kali disebut dalam pertemuan sarapan pagi tersebut. Scott Goodwin segera membayar tagihan restoran dan berpisah, namun telepon genggamnya langsung berdering sesaat setelah ia menunggu taksi untuk menanyakan hasil pertemuan. Meskipun publik sepak bola Amerika Serikat dikenal memiliki chauvinisme yang tinggi, mereka akhirnya rela menyingkirkan ego tersebut demi menyambut sang pelatih asal Argentina, berkaca pada kesuksesan Emma Hayes yang membawa tim nasional wanita mereka meraih medali emas Olimpiade.

Rekam jejak Mauricio Pochettino saat menukari Tottenham Hotspur, di mana ia berhasil membawa skuad muda melangkah hingga ke babak final Liga Champions pada tahun 2019, menjadi alasan utama kuatnya keyakinan terhadap kualitas dirinya. Beberapa minggu kemudian, sebuah pesan penting masuk ke kotak masuk Scott Goodwin dari JT Batson yang telah bernegosiasi dengan agen sang pelatih mengenai kontrak hingga berakhirnya turnamen Piala Dunia mendatang.

Mantan manajer Chelsea tersebut menyambut baik proyek yang ditawarkan, akan tetapi rincian biaya finansial yang diajukan ternyata jauh lebih besar dari perkiraan awal Scott Goodwin. Biaya tersebut tidak hanya untuk membayar gaji sang manajer, melainkan juga untuk memboyong seluruh staf teknisnya ke Amerika Serikat. Selain itu, US Soccer juga masih harus menyelesaikan kompensasi pemecatan bagi Gregg Berhalter beserta jajaran staf lamanya.

Menurut laporan beberapa media olahraga Amerika Serikat, total biaya operasi untuk mendaratkan sang pelatih diperkirakan mencapai angka 20 juta dolar AS. Federasi sepak bola hanya mampu menanggung sebagian kecil dari total nominal tersebut, bersama dengan suntikan dana dari mitra komersial lainnya. Menyadari adanya celah kekurangan dana yang sangat besar, Scott Goodwin langsung menghubungi rekannya sesama miliarder dan pencinta sepak bola, Kenneth Griffin.

Kenneth Griffin sebelumnya dikenal telah menyumbangkan jutaan dolar untuk pembangunan lapangan sepak bola mini di kota Chicago dan Miami. "Saya katakan kepadanya: Ken, kita bisa mengubah masa depan sepak bola Amerika. Kita benar-benar harus melakukan ini," kenang Scott Goodwin saat meyakinkan rekannya. Percakapan telepon tersebut dikabarkan berlangsung sangat singkat, kurang dari lima menit, sebelum akhirnya Kenneth Griffin sepakat untuk ikut mendanai proyek ambisius ini.

Dengan bergabungnya Kenneth Griffin, dana pribadi dari Scott Goodwin, serta kontribusi dari pihak federasi dan sponsor komersial, struktur finansial mega transfer ini akhirnya rampung sepenuhnya. Tanda tangan kontrak Mauricio Pochettino pun berhasil didapatkan tidak lama setelah kesepakatan tersebut tercapai. Struktur kesepakatan monster seperti ini dinilai sangat unik dan hampir mustahil terjadi di kompetisi sepak bola negara-negara Eropa.

// TOPICS
#mauricio_pochettino #timnas_as #wall_street #us_soccer #piala_dunia_2026 #berita_bola #sepak_bola_internasional
Jurnalis Olahraga Senior - Sepak Bola & Analisis Taktik

Ajiman Prasetyo adalah jurnalis olahraga ternama dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia sepak bola. Mantan koresponden di Jakarta, London, dan Madrid, ia telah meliput berbagai ajang olahraga terbesar: Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions, dan liga-liga nasional. Analisis taktik dan laporan lapangannya dihargai karena kedalaman dan ketepatannya. Bergairah tentang sepak bola Eropa dan Amerika Selatan, ia menghadirkan pandangan unik dan mendalam tentang berita olahraga.