Presiden FIFA, Gianni Infantino, tampaknya belum puas dengan format baru yang saat ini diterapkan. Setelah berhasil menambah kuota peserta menjadi 48 tim pada edisi terkini di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Infantino kini melemparkan wacana sensasional baru. Pria asal Swiss tersebut mengungkapkan rencana besar untuk menjajaki kemungkinan perluasan partisipan Piala Dunia menjadi 64 negara di masa depan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan wawancara Infantino dengan saluran televisi Swiss, Blue Sport, rencana perluasan ini akan mulai dipelajari secara mendalam setelah turnamen tahun ini selesai. Menurut Infantino, sangat penting bagi FIFA untuk memastikan bahwa Piala Dunia menjadi milik seluruh dunia secara inklusif, bukan didominasi oleh perwakilan dari Eropa dan Amerika Selatan saja. Dari pengamatan tim redaksi, langkah ini dinilai menjadi strategi politik sang presiden guna merangkul dukungan dari berbagai konfederasi yang lebih kecil.
Infantino menegaskan bahwa setiap negara di dunia berhak memiliki impian untuk tampil di panggung sepak bola tertinggi tersebut. Menurut pengamatannya, kualitas tim nasional di berbagai belahan dunia saat ini sudah menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Sebagai contoh, Infantino menyoroti keberhasilan sembilan dari sepuluh perwakilan Afrika yang sukses menembus fase gugur pada edisi kali ini, sebuah lonjakan besar dibandingkan saat turnamen hanya meloloskan lima tim Afrika ke babak sistem gugur pada edisi 2022.
Kendati argumen tersebut terdengar menjanjikan, dari pantauan redaksi, klaim Infantino sedikit mengabaikan fakta bahwa jumlah tim yang melaju ke babak gugur pada Piala Dunia kali ini memang meningkat dua kali lipat seiring bertambahnya total peserta. Rencana perluasan ini juga muncul menjelang pemilihan Presiden FIFA pada tahun 2027 mendatang. Infantino dipastikan akan mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat, dan sejauh ini mayoritas asosiasi anggota FIFA masih memberikan dukungan penuh karena belum adanya kandidat penantang yang muncul.
Meski posisinya di atas kertas cukup aman, jalan Infantino menuju pemilihan ulang tidak sepenuhnya mulus. Berdasarkan laporan dari surat kabar Inggris, The Times, kepemimpinannya sempat digoyang oleh skandal kartu merah Folarin Balogun. Intervensi lisan dikabarkan terjadi setelah adanya kontak telepon antara presiden Amerika Serikat saat itu dengan bos FIFA, yang berujung pada pembatalan hukuman sang striker. Insiden kontroversial ini memicu beberapa federasi sepak bola di Eropa untuk meninjau kembali dukungan mereka terhadap Infantino.
Selain membahas wacana 64 tim dan isu politik organisasi, Infantino juga memanfaatkan momen tersebut untuk membela kebijakan harga tiket pertandingan Piala Dunia yang dinilai sangat tinggi oleh publik. Menurut pandangannya, banderol mahal tersebut sangat wajar mengingat antusiasme suporter yang luar biasa. Dari pantauan redaksi, Infantino memaparkan data bahwa tingkat keterisian stadion saat ini mencapai 99,7 persen dan diproyeksikan bakal menyentuh angka 99,9 persen pada laga final nanti.
Bahkan, Infantino menambahkan bahwa tingginya permintaan pasar membuat tiket pertandingan terjual kembali secara legal di pasar sekunder dengan lonjakan harga mencapai empat hingga lima kali lipat dari harga asli. Dengan animo yang begitu masif serta stadion yang selalu penuh, badan sepak bola dunia tersebut memperkirakan bahwa pergelaran Piala Dunia kali ini akan menghasilkan omzet raksasa yang menembus angka sekitar 15 miliar euro.